BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah
“ Dan hendaklah diantara kamu segolongan umat yang
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang
mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung”
Melalui ayat di atas Allah SWT. memerintahkan kepada
umat islam agar diantara mereka ada sekelompok orang yang bergerak dalam bidang
dakwah, apabila telah nampak gejala-gejala perpecahan dan pelanggaran terhadap
agama, dengan cara menyadarkan dan menyuruh manusia bahwa perbuatan baik itu
mendatangkan keuntungan dan kebahagiaan, juga bahwa kejahatan akan menimbulkan
kerugian dan kemudharatan yang besar baik pelakunya maupun kepada orang lain.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
relevansi organisasi dengan gerakan
dakwah?
a. Bagaimana
realitas dakwah modern?
b. Bagaimana
urgensi organisasi dalam pencapaian
tujuan dakwah?
c. Bagaimana
komparasi dakwah melalui organisasi (kelompok) dan individu?
2. Bagaimana
Visi dan Misi Organisasi Islam?
a. Apa
pengertian dari visi, misi, core belief dan core value?
b. Bagaimana
merumuskan visi, misi, core belief dan core value organisasi Islam?
c. Bagaimana
hubungan antara visi, misi, core belief dan core value dalam suatu organisasi
Islam?
C. Tujuan Penulisan
Untuk
mengetahui:
1. Relevansi
organisasi dengan gerakan dakwah
a. realitas
dakwah modern
b. urgensi organisasi dalam pencapaian tujuan dakwah
c. komparasi
dakwah melalui organisasi (kelompok) dan individu
2. Visi
dan misi organisasi Islam
a. pengertian
dari visi, misi, core belief dan core value
b. merumuskan
visi, misi, core belief dan core value organisasi Islam
c. hubungan
antara visi, misi, core belief dan core value dalam suatu organisasi Islam
BAB
II
RELEVANSI
ORGANISASI DENGAN GERAKAN DAKWAH DAN VISI, MISI CORE BELIEF DAN CORE VALUE
1. Relevansi Organisasi dengan Gerakan Dakwah
A.
Realitas Dakwah
Modern
Sebelum membicarakan dakwah modernitas,
sebaiknya apabila lebih dahulu membahas tentang komponen/unsur-unsur pokok
dakwah sebagai sistem komunikasi yang efektif dalam proses pelaksanaan dakwah.
Oleh karena itu, dakwah modernitas adalah dakwah yang dilaksanakan dengan
memperhatikan unsur-unsur penting dakwah tersebut, kemudian subjek atau juru
dakwah menyesuaikan materi, metode, dan media dakwah dengan kondisi masyarakat
modern (sebagai objek dakwah) yang mungkin saja situasi dan kondisi yang terjadi di zaman modern terutama dalam
bidang keagamaman, tidak pernah terjadi pada zaman sebelumnya, terutama di
zaman klasik.
Dengan demikian, berarti dakwah di era
modern adalah dakwah yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi dan keadaan
masyarakat modern, baik dari segi materi, metode, dan media yang akan
digunakan. Sebab mungkin saja materi yang disampaikan itu bagus, tetapi metode
atau media yang digunakan tidak sesuai dengan kondisi masyarakat modern, maka
dakwah akan mengalami kegagalan. Begitu pula sebaliknya, mungkin saja media
atau metode yang digunakan sesuai dengan kondisi masyarakat modern, akan tetapi
materi yamg disampaikan kurang tepat, apalagi bila tampilan kemasannya kurang
menarik, juga dakwah akan mengalami kegagalan.
Oleh karenanya, untuk mencapai tujuan
dakwah yang efektif di era modern maka
Juru dakwah seyogainya adalah orang yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang
luas, menyampaikan materi atau isi pesan
dakwah yang aktual, dengan menggunakan metode yang tepat dan relevan dengan
kondisi masyarakat modern, serta menggunakan media komunikasi yang sesuai
dengan kondisi dan kemajuan masyarakat modern yang dihadapinya.[1]
Di zaman modern ini teknologi semakin
canggih, pemanfaatan teknologi ini pun sangat efektif bagi para aktivis dakwah
untuk mentrtansfer ajaran-aajran islam kepada masyarakat dalam waktu yang
relatif singkat dan berskala luas. Buktinya, dengan adanya telivisi, masyarakat
bisa melihat dan mendengarkan acara-acara keagamaan yang diprogram oleh beberapa
stasiun telivisi, begitu juga teknologi lainnya seperti VCD, buku-buku
keagamaan dan lain sebagainya. Akan tetapi, realitanya berlawanan dengan target
dakwah itu sendiri yaitu tidak bisa merubah perilaku-perilaku masyarakat
Indonesia dan pemahaman masyarakat terhadap agama menurun, padahal di Indonesia
ini sudah banyak tenaga-tenaga profesional dalam hal dakwah. Terus mengapa
penyebab dasar menurunnya pemahaman agama masyarakat adalah niat?. Karena niat
memiliki peran utama dalam segala hal. Nabi SAW bersabda : “ setiap amal
perbuatan ditentukan oleh niatnya”(HR. Muttafaq ‘alaih). Sebab dasar adalah
ikhlas, karena tanpa adanya keikhlasan dari pelaku dakwah, maka seakan-akan apa
yang telah dikerjakan sia-sia dan tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Bukan
hanya itu, akan tetapin masih banyak penyebab-penyebab lain yang dapat
menggagalkan visi misi dakwah, kemungkinan besar dari objek dakwah, pemahaman
masyarakat terhadap agama dan lain sebagainya yang semua itu mutlak diperlukan
untuk membantu kelancaran dakwah.[2]
B.
Urgensi
Organisasi dalam Pencapaian Tujuan Dakwah
Diketahui bahwa ruang lingkup dakwah sasarannya itu
amat luas, sebab ia meliputi semua aspek kehidupan umat islam, baik kehidupan
moral spiritual maupun kehidupan material, baik kehidupan jasmani maupun rohani
dalam mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat.
Maka untuk melaksanakan tugas mulia dan besar itu
diperlukan kumpulan para da’I dalam suatu wadah organisasi dakwah agar menjadi
mudah pelaksanaannya. Hal ini disebabkan karena tindakan-tindakan dakwah dalam
tugas yang lebih terperinci, serta diserahkan pelaksanaannya kepada beberapa
orang yang akan mencegah timbulnya akumulasi pekerjaan hanya pada diri
seseorang pelaksana saja.
Disamping itu, pemerincian kegiatan-kegiatan dakwah
menjadi tugas para pelaksana dakwah. Pembagian tugas-tugas dakwah masing-masing
pelaksana dakwah, membuat mereka mengetahui dengan tepat sumbangan pikiran apa
yang harus duberikan dalam dalam rangka penyelenggaraan dakwah, kejelasan
masing-masing terhadap tugas pekerja yang harus dilakukan, dapat meminimalisir
timbulnya salah pengertian, kekacauan, kekembaran dan kekosongan. Disamping
itu, penegasan orang-orang terhadap tugas tertentu juga untuk menumbuhkan
pendalaman orang tersebut terhadap tugas pekerja yang diserahkan kepadanya.
Selanjutnya dengan pengorgansasian, kegiatan-kegiatan
dakwah yang dirinci akan memudahkan pemilihan tenaga-tenaga yang diperlukan
untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut, serta sarana atau alat yang
dibutuhkan.
Pengorganisasian tersebut akan mendatangkan
keberuntungan berupa terpadunya berbagai kemampuan dan keahlian dari pada para
pelaksana dakwah dalam satu kerangka kerjasama dakwah yang semuanya diarahkan
pada sasaran yang telah ditentukan.
Akhirnya dengan pengorganisasian, dimana masing-masing
pelaksana menjalankan tugasnya pada kesatuan-kesatuan kerja yang telah
ditentukan dengan wewenang yang telah ditentikan pula, akan memudahkan pimpinan
dakwah dalam mengendalikan dan mengevaluasi penyelenggaraan dakwah.
Adanya organisasi yang baik dan millitan yang
mendukung dakwah Islamiyyah adalah satu keharusan mutlak karena tanpa adanya
organisasi yang demikian, dakwah islamiyyah tidak akan berjalan dengan baik,
bahkan kemungkinan besar akan mandek dama sekali. Berdasarkan jalan ini maka
ada pendapat yang menyatakan bahwa tugas pendukung terhadap dakwah islamiyyah
itu terletak diatas pundak Daulah Islamiyyah.[3]
C. Komparasi dakwah melalui Organisasi (kelompok) dan Individu
Dakwah tidak hanya melalui tabligh saja atau secara
individu saja tetapi melalui tazbir atau melalui organisasi (kelompok).
Dalam aktivitas mengajak kepada jalan Islam, Al-Qur’an
memberikan gambaran yang jelas seperti tertera dalam surat Fushilat (41) ayat
33.
‘Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang
yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata:
"Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?"
Dari
ayat ini ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam menjalankan aktivitas
dakwah, yakni dakwah bil-qoul dan dakwah bil-amal. Dakwah bil-qaul dapat dilakukan secara individual, kelompok
atau massa. Inilah yang kemudian menjadi kajian utama dalam Progam Studi
Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dan Bimbingan Konseling Islam (BKI). Sementara
dakwah bil-amal merupakan aktivitas dakwah yang dilakukan dengan cara social
engineering (rekayasa sosial). Dakwah model ini yang menjadi fokus kajian
program studi pengembangan masyarakat Islam (PMI). Untuk mengefektifkan dan
mengkoordinasikan antara antara dakwah
bil-qaul dengan dakwah bil-amal diperlukan adanya manajemen dan inilah yang
menjadi fokus dalam Progam Studi Manajemen Dakwah (MD)[4]
Berdasarkan metode dakwah yang digunakan, perbandingan
atau komparasi dakwah dapat dibedakan sebagai berikut:
Dakwah Individual:
1) Metode Ceramah
a) Teknik pesiapan ceramah
b) Teknik penyampaian ceramah
c) Teknik penutupan ceramah
2) Metode Konseling
a) Teknik non direktif
b) Teknik direktif
c) Teknik elektik
3) Metode Karya Tulis
a) Teknik penulisan
b) Teknik penulisan surat (korespondensi)
c) Teknik pembuatan gambar
Dakwah kelompok/Organisasi
1) Metode Pemberdayaan Masyarakat
a) Teknik non partisipasi
b) Teknik tekonisme
c) Teknik partisipasi / kekuasaan masyarakat
2) Metode Kelembagaan
a) Manejemen SDM pengurus lembaga dakwah (man)
b) Manejemen keuangan lembaga dakwah (money)
c) Manejemen strategi lembaga dakwah (method)
d) Manejemen sarana lembaga dakwah (machine)
e) Manejemen produk lembaga dakwah (material)
f) Manejemen pemasaran lembaga dakwah (market)
2.
Visi dan Misi Organisasi Islam
A. Pengertian Visi, Misi, Core
Belief dan Core Value
Dalam perncanaan strategis organisasi
Islam perumusan visi, misi dan nilai merupakan hal yang pertama harus
dilakukan.
Visi adalah pernyataan yang merupakan
sarana untuk mengkominikasikan alasan keberadaan organisasi dalam arti tujuan
dan tugas pokok, memperlihatkan framework hubungan antara organisasi dengan
stakeholder, dan menyatakan sasaran utama knerja organisasi dalam arti
pertumbuhan dan perkembangan organisasi.
Visi bukan fakta saat ini akan tetapi pandangan tentang masa depan yang
ingin diwujudkan. Visi dapat memberikan arahan dorongan anggota organisasi
untuk menunjukkan kinerja yang baik. Visi juga harus dapat menimbulkan
inspirasi, menjembatani masa kini dan masa yang akan datang, merupakan gambaran
yang realistik dan kredibel dengan masa depan yang menarik dan sifatnya statis
dan tidak untuk selamanya.
Misi adalah jalan pilihan (the chosen
track) suatu organisasi untuk menyediakan produk/jasa bagi customer-nya.
Perumusan misi adalah suatu upaya untuk menentukan peta perjalanan suatu
organisasi, sehingga organisasi tersebut memiiki arah yang jelas dalalam
mencapai tujuannya. Dengan memiliki misi, organisasi dapat eksis dan bertahan
serta dapat melakukakan perkembangan.
Filosofi atau core beliefes adalah
keyakinan tentang kebenaran visi dan kebenaran jalan yang dipilih untuk
mewujudkan visi. Sedangkan core values adalah nilai-nilai yang dijunjung tinggi
oleh organisasi dalam perjalanan mewujudkan visi. Core Values memberikan
batasan dalam pemilihan cara-cara yang ditempuh dalam perjalanan mewujudkan
visi. Core Values membentuk perilaku yang diharapkan dari anggota organisasi
dalam perjalanan mewujudkan visi organisasi.[5]
B. Merumuskan Visi, Misi, Core Belief, dan Core Value Organisasi Islam
Bagaimana merumuskan Visi?
Untuk merumuskan visi, diperlukan
kemampuan sebagai berikut:
1. Trend wacthing, adalah kemampuan
mengamati trend perubahan yang akan terjadi di masa yang akan datang.
2. Envisioning, kemampuan merumuskan
visi berdasarkan hasil pengamatan terhadap trend perubahan yang akan terjadi
dimasa yang akan datang. Pada dasarnya envisioning merupakan kemampuan
menggambarkan perubahan yang akan diwujudkan dimasa yang akan datang.
Bagaimana merumuskan Misi?
Misi dirumuskan dengan cara mencari
jawaban atas pertanyaan berikut:
1.
Bagaimana asumsi terhadap lingkungan yang akan dilayani oleh organisasi?
2.
Kebutuhan apa yang kita penuhi?
3.
Siapa Customer kita?
4.
Dalam bisnis apa kita berada?
5.
Apa yang terbaik kita lakukan dalam bisnis tersebut?
Bagaimana merumuskan Core Beliefs dan
Core Values?
Core beliefs dirumuskan dengan menggali
informasi yang memperkuat kebenaran visi yang telah dirumuskan dan kebenaran
tentang perjalanan untuk mewujudkann visi tersebut. Sementara itu core values
merupakan karakter baik yang terdapat dalam diri setiap manusia. Sehingga
perumusan core values dalam suatu organisasi pada dasarnya adalah “rediscovery”nilai-nilai
yang dijunjung tinggi oleh anggota organisasi pada umumnya, dan penekanannya
untuk memberi warna pada perilaku mereka dalam perjalanan mewujudkan visi.[6]
C. Hubungan antara Visi, Misi, Core
Belief dan Core Value dalam suatu Organisasi Islam
Sebuah organisasi Islam memerlukan Misi, Visi,
Core Values, dan core values untuk memfokuskan semua kegiatan organisasi,
sehingga menjadikan organisasi berjalan efektif dengan alasan sebagai berikut:
1. Terjadinya
perubahan atas perubahan.
2. Adanya kecenderungan
orang kembali ke dasar, prinsip, atau ke alam.
3. Langkah awal
penting dalam strategic management.
4. Pemusatan
seluruh Sumber daya Organisasi ke perwujudan kondisi yang digambarkan dalam
visi.
5. Pengefektivan
sistem pengendalian manajemen dengan menanamkan unsur pengendalian ke dalam
diri personal.[7]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dakwah di era modern adalah
dakwah yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi dan keadaan masyarakat
modern, baik dari segi materi, metode, dan media yang akan digunakan.
Adanya organisasi yang baik dan millitan yang
mendukung dakwah Islamiyyah adalah satu keharusan mutlak karena tanpa adanya
organisasi yang demikian, dakwah islamiyyah tidak akan berjalan dengan baik,
bahkan kemungkinan besar akan mandek dama sekali. Berdasarkan jalan ini maka
ada pendapat yang menyatakan bahwa tugas pendukung terhadap dakwah islamiyyah
itu terletak diatas pundak Daulah Islamiyyah.
Berdasarkan metode dakwah yang digunakan, perbandingan
atau komparasi dakwah dapat dibedakan.
Dalam perncanaan strategis
organisasi Islam perumusan visi, misi, core belief dan core value merupakan hal
yang pertama harus dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
http://altajdidstain.blogspot.com/2011/02/dakwah-di-era-modern.html
diakses pada tanggal 28 Oktober 2013, pukul 19:56
http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/04/realitas-dakwah-di-era-globalisasi-444256.html diakses paada tgl 28-10-2013 pukul 16:57
http://lacky1.blogspot.com/2013/04/urgensi-dakwah-dan-organsisasi-dakwah.html
diakse tgl 28-10-2013, pukul 16:57
Bachtiar, Wardi. 1997. Metodologi Penelitian
Dakwah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, hal.34
http://irwansafari.blogspot.com/2011/10/visi-misi-core-values-dan-core-beliefs.html,
diakses pada tgl 28-10-2013. pukul 17 :10
[1] http://altajdidstain.blogspot.com/2011/02/dakwah-di-era-modern.html
diakses pada tanggal 28 Oktober 2013, pukul 19:56
[2] http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/04/realitas-dakwah-di-era-globalisasi-444256.html diakses paada tgl 28-10-2013 pukul 16:57
[3] http://lacky1.blogspot.com/2013/04/urgensi-dakwah-dan-organsisasi-dakwah.html
diakse tgl 28-10-2013, pukul 16:57
[4] Bachtiar,
Wardi. 1997. Metodologi Penelitian Dakwah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, hal.34
[5] http://irwansafari.blogspot.com/2011/10/visi-misi-core-values-dan-core-beliefs.html
, diakses pada tgl 28-10-2013. pukul 17 :10
[6] Ibid.
[7] Ibid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar