Jumat, 20 Desember 2013

revew buku manajemen masjid

Nama               : Sinta Fitriani
NIM                : 1211403055
Kelas               : MD/4/B
Revew Buku Manajemen Masjid ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas individu pada mata kuliah Manajemen Masjid.
·         Fakta sejarah membuktikan salah satu upaya untuk mempersatukan umat Islam adalah dengan cara membangun ta mendirikan masjid. Pada awalnya tujuan pendirian masjid sangat sempit, namun fungsi masjid kemudian semakin berkembang dari masa ke masa, dari period eke periode selanjutnya. Selain dijadikan sebaga tempat ibadah shalat, masjid juga kemudian digunakan sebagai sentrl kegiatan social, seperti pendidikan, seni-budaya, hokum, politik, ekonomi, dan sebagainya.
·         Masijd merupakan sebuah kata yang terbentuk dari bahasa Arab berada pada posisi isim makan yang menunujuka tempat.
·         Masalah yang dihadapi adalah kemiskinan structural dan pengaruhnya adalah inflasi moneter yang semakin memperparah kehidupan mereka.
·         Salah satu solusi untuk meninggalkan ketelantarn masjid adalah dengan memunculkan rasa solidaritas atau kepedulian social yang didasarkan pada ikatan tawhid.
·         System social islam ialah adanya anggapan bahwa masyarakat merupakan bagian dari system social atau secara sempit, masyarakt sudah merupakan sistm social.
·         Umat Ism adalah suatu pranata kosmik yang disatukan oleh kehendak Ilahi yang bersifat moral menurut kebebasan dari para pelakunya.
·         Masjid sebgai pranata social islam bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan perilkau keagamaan masyarakat.
·         Nasib masjid masa kini secara fisik mengalami evolusi positif yang luarbiasa, namun fungsi masjid yang universal itu semakin hari semakin terduksi dan tampaknya jika hal ini dibiarkan masjid-masjid itu akan menjadi bangunan mati yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan persoalan-persoalan umat ang tinggal diselitarnya dan hal ini sangat menyedihkan.
·         Beberapa fungsi masjid adalah: sebagai tepatshalat, fungsi social kemasyrakatan, politik, pendidikan, ekonomi, dan pengembangan seni-budaya.
·         Masjid sebagai pusat perkembangan harus dapat megimbangi kemajuan material dengan dorongan spiritual. Kategorisasiberdasaekan lingkungan dan situasi masyarakat yang ada di sekitarnya, paling sedikit dapat dikelompokkan atas 6 kelompok : masjid sebgai pusat kota atau juga masjid protocol/masjid raya/masjid agung, masjid instansi pemerintah, masjid kampus, masjid di lingkungan pedesaan, masjid yang ada di pusat ekonomi seperti mall, supermarket, pasar tradisional dan masjid wisata.
·         Dalam konsep modern pengelolaan yang sistematis dan professional itu membutuhkan upaya-upaya terorganisir dalam lingkup manajemen masjid. Dalam proses pelaksanaannya, agar organisasi masjid berjalan sesuai cita-cita Islam dibutuhkan usaha pengelolaan yang baik dan benar. Dalam manajemen masjid secra garis besar menurut Ayub terbagi dua bidang: physical management dan functional management.
·         Adminstrasi masjid dapat dimaknai sebagai sebuah proses penyelenggaraan kegiatan masjid yang dilaksanakan berdasarkan tujuan dan rasionalitas tertentu dan berdaya guna untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
·         Imam, khatib, dan muadzin banyak berhubungan dengan kegitan inti yang diselenggarakan oleh sebuah masjid, oleh karenanya para pengurus masjid mesti memperhatikan ketiga unsur ini sebelum yang lainnya. Pengurus masjid harus membuat perencanaan yang mtang ketika mempersiapakan para imam, khatib dan muadzin ini sehingga selalu tepat waktu.
·         Menggerkan koperasi masjid maksudnya ilah masijd memiliki dimensi ekonomi dimana ia memiliki dimensi-dimensi usaha untuk pemberdayaaan umat dan masjid. Fasilitator bagi pelaksana berbagai kegiatan ekonomi yang biasa muncul dalam prinsip-prinsip koperasi.
·         Ada beberapa bentuk hubungan masjid dengan luar: masjd memilki interaksi dengan lembaga-lembaga yang menaunginya, masjid memiliki interaksi dengan jamaahnya, dan masjid juga memilki hubungan yang erat dengan pihak pemerintah.
·         Melalui program-program dewan masjid yang disosialisasikan oleh para anggota jamaah dengan membentuk koperasi yang diawadahi dan dinaungi oleh masjid. Dalam konteks ekonomi, tujuan utamanya adalh upaya menyejahterakan masyarakat, yaitu terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan.
·         Kesejahteraan social dimulai dari perjuangan mewujudkan dan menyuburkan aspek-aspek akidah dan etika pada diri pribadi. Ajaran Islam sangat memperhatikan keseimbangan dan integrasi social karena prinsip yang ditawarkannya dalam pencapaian tujuan kesejahteraan hidup ialah dengan tidak menggannggu hak-hak pihak lain.
·         Kondisi ekonomi yang kondusif dimana masing-masing status dan strata social-ekonomi mampu menerapkan fungsi dan menjalankan perannya masing-masing sebagai suatu kesatuan yang utuh sehingga dapat bekerjasama secara sinergis dan saling menguntungkan.
·         Pengelolaan masjid secara professional dapat dikatakan sebagai amal sholeh atau bahkan sebagai ahsan 'amala (amal yang terbaik) karena dilakukan demi kepentingan orang banyak, tidak hanya individu belaka.
·         Melalui prinsip tawhid umat Islam kemudian memiliki kesadaran untuk mengekspresikan ketaatan dan kashalehannya dengan membuat sebuah lembaga yang dinamakan masjid.

 Nama               : Sinta Fitriani
NIM                : 1211403055
Kelas               : MD/4/B
Revew Buku Manajemen Masjid ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas individu pada mata kuliah Manajemen Masjid.
·         Fakta sejarah membuktikan salah satu upaya untuk mempersatukan umat Islam adalah dengan cara membangun ta mendirikan masjid. Pada awalnya tujuan pendirian masjid sangat sempit, namun fungsi masjid kemudian semakin berkembang dari masa ke masa, dari period eke periode selanjutnya. Selain dijadikan sebaga tempat ibadah shalat, masjid juga kemudian digunakan sebagai sentrl kegiatan social, seperti pendidikan, seni-budaya, hokum, politik, ekonomi, dan sebagainya.
·         Masijd merupakan sebuah kata yang terbentuk dari bahasa Arab berada pada posisi isim makan yang menunujuka tempat.
·         Masalah yang dihadapi adalah kemiskinan structural dan pengaruhnya adalah inflasi moneter yang semakin memperparah kehidupan mereka.
·         Salah satu solusi untuk meninggalkan ketelantarn masjid adalah dengan memunculkan rasa solidaritas atau kepedulian social yang didasarkan pada ikatan tawhid.
·         System social islam ialah adanya anggapan bahwa masyarakat merupakan bagian dari system social atau secara sempit, masyarakt sudah merupakan sistm social.
·         Umat Ism adalah suatu pranata kosmik yang disatukan oleh kehendak Ilahi yang bersifat moral menurut kebebasan dari para pelakunya.
·         Masjid sebgai pranata social islam bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan perilkau keagamaan masyarakat.
·         Nasib masjid masa kini secara fisik mengalami evolusi positif yang luarbiasa, namun fungsi masjid yang universal itu semakin hari semakin terduksi dan tampaknya jika hal ini dibiarkan masjid-masjid itu akan menjadi bangunan mati yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan persoalan-persoalan umat ang tinggal diselitarnya dan hal ini sangat menyedihkan.
·         Beberapa fungsi masjid adalah: sebagai tepatshalat, fungsi social kemasyrakatan, politik, pendidikan, ekonomi, dan pengembangan seni-budaya.
·         Masjid sebagai pusat perkembangan harus dapat megimbangi kemajuan material dengan dorongan spiritual. Kategorisasiberdasaekan lingkungan dan situasi masyarakat yang ada di sekitarnya, paling sedikit dapat dikelompokkan atas 6 kelompok : masjid sebgai pusat kota atau juga masjid protocol/masjid raya/masjid agung, masjid instansi pemerintah, masjid kampus, masjid di lingkungan pedesaan, masjid yang ada di pusat ekonomi seperti mall, supermarket, pasar tradisional dan masjid wisata.
·         Dalam konsep modern pengelolaan yang sistematis dan professional itu membutuhkan upaya-upaya terorganisir dalam lingkup manajemen masjid. Dalam proses pelaksanaannya, agar organisasi masjid berjalan sesuai cita-cita Islam dibutuhkan usaha pengelolaan yang baik dan benar. Dalam manajemen masjid secra garis besar menurut Ayub terbagi dua bidang: physical management dan functional management.
·         Adminstrasi masjid dapat dimaknai sebagai sebuah proses penyelenggaraan kegiatan masjid yang dilaksanakan berdasarkan tujuan dan rasionalitas tertentu dan berdaya guna untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
·         Imam, khatib, dan muadzin banyak berhubungan dengan kegitan inti yang diselenggarakan oleh sebuah masjid, oleh karenanya para pengurus masjid mesti memperhatikan ketiga unsur ini sebelum yang lainnya. Pengurus masjid harus membuat perencanaan yang mtang ketika mempersiapakan para imam, khatib dan muadzin ini sehingga selalu tepat waktu.
·         Menggerkan koperasi masjid maksudnya ilah masijd memiliki dimensi ekonomi dimana ia memiliki dimensi-dimensi usaha untuk pemberdayaaan umat dan masjid. Fasilitator bagi pelaksana berbagai kegiatan ekonomi yang biasa muncul dalam prinsip-prinsip koperasi.
·         Ada beberapa bentuk hubungan masjid dengan luar: masjd memilki interaksi dengan lembaga-lembaga yang menaunginya, masjid memiliki interaksi dengan jamaahnya, dan masjid juga memilki hubungan yang erat dengan pihak pemerintah.
·         Melalui program-program dewan masjid yang disosialisasikan oleh para anggota jamaah dengan membentuk koperasi yang diawadahi dan dinaungi oleh masjid. Dalam konteks ekonomi, tujuan utamanya adalh upaya menyejahterakan masyarakat, yaitu terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan.
·         Kesejahteraan social dimulai dari perjuangan mewujudkan dan menyuburkan aspek-aspek akidah dan etika pada diri pribadi. Ajaran Islam sangat memperhatikan keseimbangan dan integrasi social karena prinsip yang ditawarkannya dalam pencapaian tujuan kesejahteraan hidup ialah dengan tidak menggannggu hak-hak pihak lain.
·         Kondisi ekonomi yang kondusif dimana masing-masing status dan strata social-ekonomi mampu menerapkan fungsi dan menjalankan perannya masing-masing sebagai suatu kesatuan yang utuh sehingga dapat bekerjasama secara sinergis dan saling menguntungkan.
·         Pengelolaan masjid secara professional dapat dikatakan sebagai amal sholeh atau bahkan sebagai ahsan 'amala (amal yang terbaik) karena dilakukan demi kepentingan orang banyak, tidak hanya individu belaka.
·         Melalui prinsip tawhid umat Islam kemudian memiliki kesadaran untuk mengekspresikan ketaatan dan kashalehannya dengan membuat sebuah lembaga yang dinamakan masjid.


RELEVANSI ORGANISASI DENGAN GERAKAN DAKWAH DAN VISI, MISI ORGANISASI ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
“ Dan hendaklah diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung”
Melalui ayat di atas Allah SWT. memerintahkan kepada umat islam agar diantara mereka ada sekelompok orang yang bergerak dalam bidang dakwah, apabila telah nampak gejala-gejala perpecahan dan pelanggaran terhadap agama, dengan cara menyadarkan dan menyuruh manusia bahwa perbuatan baik itu mendatangkan keuntungan dan kebahagiaan, juga bahwa kejahatan akan menimbulkan kerugian dan kemudharatan yang besar baik pelakunya maupun kepada orang lain.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana relevansi organisasi  dengan gerakan dakwah?
a.       Bagaimana realitas dakwah modern?
b.      Bagaimana urgensi  organisasi dalam pencapaian tujuan dakwah?
c.       Bagaimana komparasi dakwah melalui organisasi (kelompok) dan individu?
2.      Bagaimana Visi dan Misi Organisasi Islam?
a.       Apa pengertian dari visi, misi, core belief dan core value?
b.      Bagaimana merumuskan visi, misi, core belief dan core value organisasi Islam?
c.       Bagaimana hubungan antara visi, misi, core belief dan core value dalam suatu organisasi Islam?
C.    Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui:
1.      Relevansi organisasi  dengan gerakan dakwah
a.       realitas dakwah modern
b.      urgensi  organisasi dalam pencapaian tujuan dakwah
c.       komparasi dakwah melalui organisasi (kelompok) dan individu
2.      Visi dan misi organisasi Islam
a.       pengertian dari visi, misi, core belief dan core value
b.      merumuskan visi, misi, core belief dan core value organisasi Islam
c.       hubungan antara visi, misi, core belief dan core value dalam suatu organisasi Islam























BAB II
RELEVANSI ORGANISASI DENGAN GERAKAN DAKWAH DAN VISI, MISI CORE BELIEF DAN CORE VALUE

1. Relevansi Organisasi dengan Gerakan Dakwah
A.    Realitas Dakwah Modern
Sebelum membicarakan dakwah modernitas, sebaiknya apabila lebih dahulu membahas tentang komponen/unsur-unsur pokok dakwah sebagai sistem komunikasi yang efektif dalam proses pelaksanaan dakwah. Oleh karena itu, dakwah modernitas adalah dakwah yang dilaksanakan dengan memperhatikan unsur-unsur penting dakwah tersebut, kemudian subjek atau juru dakwah menyesuaikan materi, metode, dan media dakwah dengan kondisi masyarakat modern (sebagai objek dakwah) yang mungkin saja situasi dan kondisi  yang terjadi di zaman modern terutama dalam bidang keagamaman, tidak pernah terjadi pada zaman sebelumnya, terutama di zaman klasik.
Dengan demikian, berarti dakwah di era modern adalah dakwah yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi dan keadaan masyarakat modern, baik dari segi materi, metode, dan media yang akan digunakan. Sebab mungkin saja materi yang disampaikan itu bagus, tetapi metode atau media yang digunakan tidak sesuai dengan kondisi masyarakat modern, maka dakwah akan mengalami kegagalan. Begitu pula sebaliknya, mungkin saja media atau metode yang digunakan sesuai dengan kondisi masyarakat modern, akan tetapi materi yamg disampaikan kurang tepat, apalagi bila tampilan kemasannya kurang menarik, juga dakwah akan mengalami kegagalan.
Oleh karenanya, untuk mencapai tujuan dakwah  yang efektif di era modern maka Juru dakwah seyogainya adalah orang yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, menyampaikan  materi atau isi pesan dakwah yang aktual, dengan menggunakan metode yang tepat dan relevan dengan kondisi masyarakat modern, serta menggunakan media komunikasi yang sesuai dengan kondisi dan kemajuan masyarakat modern yang dihadapinya.[1]
Di zaman modern ini teknologi semakin canggih, pemanfaatan teknologi ini pun sangat efektif bagi para aktivis dakwah untuk mentrtansfer ajaran-aajran islam kepada masyarakat dalam waktu yang relatif singkat dan berskala luas. Buktinya, dengan adanya telivisi, masyarakat bisa melihat dan mendengarkan acara-acara keagamaan yang diprogram oleh beberapa stasiun telivisi, begitu juga teknologi lainnya seperti VCD, buku-buku keagamaan dan lain sebagainya. Akan tetapi, realitanya berlawanan dengan target dakwah itu sendiri yaitu tidak bisa merubah perilaku-perilaku masyarakat Indonesia dan pemahaman masyarakat terhadap agama menurun, padahal di Indonesia ini sudah banyak tenaga-tenaga profesional dalam hal dakwah. Terus mengapa penyebab dasar menurunnya pemahaman agama masyarakat adalah niat?. Karena niat memiliki peran utama dalam segala hal. Nabi SAW bersabda : “ setiap amal perbuatan ditentukan oleh niatnya”(HR. Muttafaq ‘alaih). Sebab dasar adalah ikhlas, karena tanpa adanya keikhlasan dari pelaku dakwah, maka seakan-akan apa yang telah dikerjakan sia-sia dan tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Bukan hanya itu, akan tetapin masih banyak penyebab-penyebab lain yang dapat menggagalkan visi misi dakwah, kemungkinan besar dari objek dakwah, pemahaman masyarakat terhadap agama dan lain sebagainya yang semua itu mutlak diperlukan untuk membantu kelancaran dakwah.[2]
B.     Urgensi Organisasi dalam Pencapaian Tujuan Dakwah
Diketahui bahwa ruang lingkup dakwah sasarannya itu amat luas, sebab ia meliputi semua aspek kehidupan umat islam, baik kehidupan moral spiritual maupun kehidupan material, baik kehidupan jasmani maupun rohani dalam mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat.
Maka untuk melaksanakan tugas mulia dan besar itu diperlukan kumpulan para da’I dalam suatu wadah organisasi dakwah agar menjadi mudah pelaksanaannya. Hal ini disebabkan karena tindakan-tindakan dakwah dalam tugas yang lebih terperinci, serta diserahkan pelaksanaannya kepada beberapa orang yang akan mencegah timbulnya akumulasi pekerjaan hanya pada diri seseorang pelaksana saja.
Disamping itu, pemerincian kegiatan-kegiatan dakwah menjadi tugas para pelaksana dakwah. Pembagian tugas-tugas dakwah masing-masing pelaksana dakwah, membuat mereka mengetahui dengan tepat sumbangan pikiran apa yang harus duberikan dalam dalam rangka penyelenggaraan dakwah, kejelasan masing-masing terhadap tugas pekerja yang harus dilakukan, dapat meminimalisir timbulnya salah pengertian, kekacauan, kekembaran dan kekosongan. Disamping itu, penegasan orang-orang terhadap tugas tertentu juga untuk menumbuhkan pendalaman orang tersebut terhadap tugas pekerja yang diserahkan kepadanya.
Selanjutnya dengan pengorgansasian, kegiatan-kegiatan dakwah yang dirinci akan memudahkan pemilihan tenaga-tenaga yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut, serta sarana atau alat yang dibutuhkan.
Pengorganisasian tersebut akan mendatangkan keberuntungan berupa terpadunya berbagai kemampuan dan keahlian dari pada para pelaksana dakwah dalam satu kerangka kerjasama dakwah yang semuanya diarahkan pada sasaran yang telah ditentukan.
Akhirnya dengan pengorganisasian, dimana masing-masing pelaksana menjalankan tugasnya pada kesatuan-kesatuan kerja yang telah ditentukan dengan wewenang yang telah ditentikan pula, akan memudahkan pimpinan dakwah dalam mengendalikan dan mengevaluasi penyelenggaraan dakwah.
Adanya organisasi yang baik dan millitan yang mendukung dakwah Islamiyyah adalah satu keharusan mutlak karena tanpa adanya organisasi yang demikian, dakwah islamiyyah tidak akan berjalan dengan baik, bahkan kemungkinan besar akan mandek dama sekali. Berdasarkan jalan ini maka ada pendapat yang menyatakan bahwa tugas pendukung terhadap dakwah islamiyyah itu terletak diatas pundak Daulah Islamiyyah.[3]
C.     Komparasi dakwah melalui Organisasi (kelompok) dan Individu
Dakwah tidak hanya melalui tabligh saja atau secara individu saja tetapi melalui tazbir atau melalui organisasi (kelompok).
Dalam aktivitas mengajak kepada jalan Islam, Al-Qur’an memberikan gambaran yang jelas seperti tertera dalam surat Fushilat (41) ayat 33.
‘Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?"
            Dari ayat ini ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam menjalankan aktivitas dakwah, yakni dakwah bil-qoul dan dakwah bil-amal. Dakwah bil-qaul  dapat dilakukan secara individual, kelompok atau massa. Inilah yang kemudian menjadi kajian utama dalam Progam Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dan Bimbingan Konseling Islam (BKI). Sementara dakwah bil-amal merupakan aktivitas dakwah yang dilakukan dengan cara social engineering (rekayasa sosial). Dakwah model ini yang menjadi fokus kajian program studi pengembangan masyarakat Islam (PMI). Untuk mengefektifkan dan mengkoordinasikan antara  antara dakwah bil-qaul dengan dakwah bil-amal diperlukan adanya manajemen dan inilah yang menjadi fokus dalam Progam Studi Manajemen Dakwah (MD)[4]
Berdasarkan metode dakwah yang digunakan, perbandingan atau komparasi dakwah dapat dibedakan sebagai berikut:
Dakwah Individual:
1) Metode Ceramah
a) Teknik pesiapan ceramah
b) Teknik penyampaian ceramah
c) Teknik penutupan ceramah
2) Metode Konseling
a) Teknik non direktif
b) Teknik direktif
c) Teknik elektik
3) Metode Karya Tulis
a) Teknik penulisan
b) Teknik penulisan surat (korespondensi)
c) Teknik pembuatan gambar

Dakwah kelompok/Organisasi
1) Metode Pemberdayaan Masyarakat
a) Teknik non partisipasi
b) Teknik tekonisme
c) Teknik partisipasi / kekuasaan masyarakat
2) Metode Kelembagaan
a) Manejemen SDM pengurus lembaga dakwah (man)
b) Manejemen keuangan lembaga dakwah (money)
c) Manejemen strategi lembaga dakwah (method)
d) Manejemen sarana lembaga dakwah (machine)
e) Manejemen produk lembaga dakwah (material)
f) Manejemen pemasaran lembaga dakwah (market)

2.   Visi dan Misi Organisasi Islam
      A.  Pengertian Visi, Misi, Core Belief dan Core Value
Dalam perncanaan strategis organisasi Islam perumusan visi, misi dan nilai merupakan hal yang pertama harus dilakukan.
Visi adalah pernyataan yang merupakan sarana untuk mengkominikasikan alasan keberadaan organisasi dalam arti tujuan dan tugas pokok, memperlihatkan framework hubungan antara organisasi dengan stakeholder, dan menyatakan sasaran utama knerja organisasi dalam arti pertumbuhan dan perkembangan organisasi.  Visi bukan fakta saat ini akan tetapi pandangan tentang masa depan yang ingin diwujudkan. Visi dapat memberikan arahan dorongan anggota organisasi untuk menunjukkan kinerja yang baik. Visi juga harus dapat menimbulkan inspirasi, menjembatani masa kini dan masa yang akan datang, merupakan gambaran yang realistik dan kredibel dengan masa depan yang menarik dan sifatnya statis dan tidak untuk selamanya.
Misi adalah jalan pilihan (the chosen track) suatu organisasi untuk menyediakan produk/jasa bagi customer-nya. Perumusan misi adalah suatu upaya untuk menentukan peta perjalanan suatu organisasi, sehingga organisasi tersebut memiiki arah yang jelas dalalam mencapai tujuannya. Dengan memiliki misi, organisasi dapat eksis dan bertahan serta dapat melakukakan perkembangan.

Filosofi atau core beliefes adalah keyakinan tentang kebenaran visi dan kebenaran jalan yang dipilih untuk mewujudkan visi. Sedangkan core values adalah nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh organisasi dalam perjalanan mewujudkan visi. Core Values memberikan batasan dalam pemilihan cara-cara yang ditempuh dalam perjalanan mewujudkan visi. Core Values membentuk perilaku yang diharapkan dari anggota organisasi dalam perjalanan mewujudkan visi organisasi.[5]
      B. Merumuskan Visi, Misi, Core Belief, dan Core Value Organisasi Islam

Bagaimana merumuskan Visi?

Untuk merumuskan visi, diperlukan kemampuan sebagai berikut:
1. Trend wacthing, adalah kemampuan mengamati trend perubahan yang akan terjadi di masa yang akan datang.
2. Envisioning, kemampuan merumuskan visi berdasarkan hasil pengamatan terhadap trend perubahan yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Pada dasarnya envisioning merupakan kemampuan menggambarkan perubahan yang akan diwujudkan dimasa yang akan datang.

Bagaimana merumuskan Misi?

Misi dirumuskan dengan cara mencari jawaban atas pertanyaan berikut:
1.      Bagaimana asumsi terhadap lingkungan yang akan dilayani oleh organisasi?
2.      Kebutuhan apa yang kita penuhi?
3.      Siapa Customer kita?
4.      Dalam bisnis apa kita berada?
5.      Apa yang terbaik kita lakukan dalam bisnis tersebut?

Bagaimana merumuskan Core Beliefs dan Core Values?

Core beliefs dirumuskan dengan menggali informasi yang memperkuat kebenaran visi yang telah dirumuskan dan kebenaran tentang perjalanan untuk mewujudkann visi tersebut. Sementara itu core values merupakan karakter baik yang terdapat dalam diri setiap manusia. Sehingga perumusan core values dalam suatu organisasi pada dasarnya adalah “rediscovery”nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh anggota organisasi pada umumnya, dan penekanannya untuk memberi warna pada perilaku mereka dalam perjalanan mewujudkan visi.[6]
      C. Hubungan antara Visi, Misi, Core Belief dan Core Value dalam suatu Organisasi Islam
 Sebuah organisasi Islam memerlukan Misi, Visi, Core Values, dan core values untuk memfokuskan semua kegiatan organisasi, sehingga menjadikan organisasi berjalan efektif dengan alasan sebagai berikut:
1.      Terjadinya perubahan atas perubahan.
2.      Adanya kecenderungan orang kembali ke dasar, prinsip, atau ke alam.
3.      Langkah awal penting dalam strategic management.
4.      Pemusatan seluruh Sumber daya Organisasi ke perwujudan kondisi yang digambarkan dalam visi.
5.      Pengefektivan sistem pengendalian manajemen dengan menanamkan unsur pengendalian ke dalam diri personal.[7]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dakwah di era modern adalah dakwah yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi dan keadaan masyarakat modern, baik dari segi materi, metode, dan media yang akan digunakan.
Adanya organisasi yang baik dan millitan yang mendukung dakwah Islamiyyah adalah satu keharusan mutlak karena tanpa adanya organisasi yang demikian, dakwah islamiyyah tidak akan berjalan dengan baik, bahkan kemungkinan besar akan mandek dama sekali. Berdasarkan jalan ini maka ada pendapat yang menyatakan bahwa tugas pendukung terhadap dakwah islamiyyah itu terletak diatas pundak Daulah Islamiyyah.
Berdasarkan metode dakwah yang digunakan, perbandingan atau komparasi dakwah dapat dibedakan.
Dalam perncanaan strategis organisasi Islam perumusan visi, misi, core belief dan core value merupakan hal yang pertama harus dilakukan.
















DAFTAR PUSTAKA

  http://altajdidstain.blogspot.com/2011/02/dakwah-di-era-modern.html diakses pada tanggal 28 Oktober 2013, pukul 19:56
  http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/04/realitas-dakwah-di-era-globalisasi-444256.html  diakses paada tgl 28-10-2013 pukul 16:57
  http://lacky1.blogspot.com/2013/04/urgensi-dakwah-dan-organsisasi-dakwah.html diakse tgl  28-10-2013, pukul 16:57
  Bachtiar, Wardi. 1997. Metodologi Penelitian Dakwah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, hal.34
  http://irwansafari.blogspot.com/2011/10/visi-misi-core-values-dan-core-beliefs.html, diakses pada tgl 28-10-2013. pukul 17 :10





[1] http://altajdidstain.blogspot.com/2011/02/dakwah-di-era-modern.html diakses pada tanggal 28 Oktober 2013, pukul 19:56
[2] http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/04/realitas-dakwah-di-era-globalisasi-444256.html  diakses paada tgl 28-10-2013 pukul 16:57
[3] http://lacky1.blogspot.com/2013/04/urgensi-dakwah-dan-organsisasi-dakwah.html diakse tgl  28-10-2013, pukul 16:57
[4] Bachtiar, Wardi. 1997. Metodologi Penelitian Dakwah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, hal.34
[5] http://irwansafari.blogspot.com/2011/10/visi-misi-core-values-dan-core-beliefs.html , diakses pada tgl 28-10-2013. pukul 17 :10

[6] Ibid.
[7] Ibid.