Nama : Sinta Fitriani
NIM :1211403055
Kelas : MD.5.B
M. Kuliah : SIMD
Hasil
Analisis jika Manajemen Sistem Informasi diterapkan pada Organisasi Dakwah.
A. METODE
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PADA ORGANISASI DAKWAH
Dalam
pengembangan sistem informasi ada beberapa metode yang harus di lakukan
diantaranya :
1.
METODE OUTSOURCING
Outsourcing
merupakan salah satu metode pengelolaan teknologi informasi dengan cara
memindahkan pengelolaannya pada pihak lain, yang tujuan akhirnya adalah
efektivitas dan efisiensi kerja. Menurut The British Computer Society,
outsourcing adalah pihak lain diluar perusahaan. Dengan definisi yang demikian
luas dari outsourcing ini, metode ini seringkali juga disamakan dengan metode
lain seperti : sub kontrak, supplier, proyek atau istilah lain yang
berbeda-beda dilapangan, namun pada dasarnya adalah sama, yaitu pemindahan
layanan kepada pihak lain.
Bentuk
kontrak outsourcing dapat dilakukan dengan beberapa alternatif, antara lain :
menambahkan pengelolaan teknologi informasi dengan penambahan sumberdaya dari
pihak luar, mengkontrakkan seluruh sistem secara utuh kepada pihak luar atau
mengkontrakkan sebagian system, yaitu hanya sistem operasional dan
fasilitasnya. Menurut The Computer Sciences Corporation Index bentuk kontrak
outsourcing dapat dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu :
1)
Total outsourcing,
Outsourcing
secara total pada seluruh komponen TI
2)
Selective outsourcing,
Outsorcing
hanya pada komponen-komponen tertentu
3)
Transitional outsourcing,
Outsourcing
yang fokusnya pada pembuatan sistem baru
4)
Transformational outsourcing,
Outsourcing
yang fokusnya pada pembangunan dan operasional dari sistem baru
Keuntungan
dan kelemahan metode outsourcing
Metode
outsourcing sebagai strategi operasional TI memiliki banyak keuntungan, antara
lain adalah sebagai berikut :
1)
Manajemen TI yang lebih baik, TI dikelola oleh pihak luar yang telah
berpengalaman dalam bidangnya, dengan prosedur dan standar operasi yang terus
menerus dikembangkan.
2)
Fleksibiltas untuk meresponse perubahan TI yang cepat, perubahan arsitektur TI
berikut sumberdayanya lebih mudah dilakukan
3)
Akses pada pakar TI yang lebih baik
4)
Biaya yang lebih murah
5)
Fokus pada inti bisnis, perusahaan tidak perlu memikirkan bagaimana sistem
TI-nya bekerja
6)
Pengembangan karir yang lebih baik untuk pekerja TI.
Menurut
The 2001 Outsourcing World Summit, 6 alasan utama sebuah perusahaan melakukan
outsourcing, adalah sebagai berikut :
1)
Mengurangi biaya /Reduce Cost, sebesar 36%
2)
Fokus pada inti / Focus on Core, sebesar 36%
3)
Meningkatkan kualitas / Improve Quality , sebesar 13%
4)
Meningkatkan kecepatan ke pasar / , sebesar 10%
5)
Membantu inovasi / Foster Innovation, sebesar 4%
6)
Menghemat modal / Conserver Capital, sebesar 1%
Namun
demikian, masih ditemui beberapa kelemahan dari metode outsourcing, sebagai
berikut :
1.
Permasalahan pada moral karyawan, pada kasus yang sering terjadi, karyawan
outsource yang dikirim ke perusahaan akan mengalami persoalan yang penangannya
lebih sulit dibandingkan karyawan tetap. Misalnya terjadi kasus-kasus tertentu,
karyawan outsource merasa dirinya bukan bagian dari perusahaan pengguna.
2.
Kurangnya kontrol perusahaan pengguna dan terkunci oleh penyedia outsourcing
melalui perjanjian kontrak
3.
Jurang antara karyawan tetap dan karyawan outsource
4.
Perubahan dalam gaya manajemen
5.
Proses seleksi kerja yang berbeda.
Keputusan
untuk mengambil outsourcing tidak hanya bergantung pada faktor biaya, tetapi
ada beberapa faktor yang harus diperhatikan saat membuat keputusan yaitu:
1)
Tingkat layanan dan harga (Service levels and pricing)
2)
Kontrak dan hubungan kerja (Contract and relationship)
3)
Kepuasan pelanggan (Customer satisfaction)
4)
Tujuan strategi
2.
METODE INSOURCING
Metode
insourcing atau disebut juga contracting, adalah suatu usaha pengembangan ICT
dalam perusahaan, dengan membentuk divisi khusus yang kompeten dibidangnya,
seperti departemen EDP (Electronic Data Processing), atau merupakan metode
pengembangan dan dukungan sistem teknologi informasi yang dilakukan oleh staff
pada suatu divisi fungsional dalam organisasi dengan atau tanpa bantuan dari
ahli sistem informasi. Motode ini dikenal juga dengan istilah end-user
computing atau end-user development.
Pengembangan
ini dilakukan oleh para ahli sistem informasi yang berada dalam departemen EDP
(Electronic Data Processing), IT (Information Technology), atau IS (Information
System). Pengembangan sistem umumnya dilakukan dengan menggunakan SDLC (Systems
Development Life Cycle) atau daur hidup pengembangan sistem.
Keuntungan
dan kelemahan metode insourcing
Metode
insourcing sebagai strategi operasional TI memiliki beberapa keuntungan, antara
lain adalah sebagai berikut :
1.
Mempermudah komunikasi dalam pengembangan system, karena kedekatan divisi IT
dan end user.
2.
Penerapan software/hardware relatif lebih sesuai dengan kebutuhan perusahaan,
karena pengembangan sistem dilakukan oleh divisi IT perusahaan yang
bersangkutan.
3.
Dari sisi biaya, akan lebih murah karena tidak ada kontrak dengan pihak
4.
Jika terjadi masalah dalam system, maka responnya akan lebih cepat.
5.
Lebih fleksibel, karena perusahaan dapat meminta perubahan sistem pada
karyawannya sendiri tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan.
Sementara
itu, ada beberapa kelemahan dari metode insourcing, sebagai berikut :
1.
Kinerja karyawan cenderung menurun ketika sudah menjadi pegawai tetap, karena
faktor kenyamanan yang dimiliki pegawai tetap.
2.
Tidak ada batasan biaya dan waktu yang jelas, karena tidak ada target. Dan
kalaupun ada target, tidak ada punishment yang jelas ketika target tidak
tercapai.
3.
Kebocoran data yang dilakukan oleh karyawan IT, dikarenakan tidak ada reward
dan punishment yang jelas.
4.
Pengembangan sistem dengan teknik SDLC cenderung lambat dan mahal.
5.
End user tidak terlibat secara langsung, sehingga terdapat kemungkinan hasil
implementasi sistem tidak sesuai dengan kebutuhan end user.
B.
PENERAPAN PENGEMBNGAN SISTEM INFORMASI PADA ORGNISASI DAKWAH
Tiga
sasaran utama dalam penerapan system informasi dalam suatu organisasi. Pertama,
memperbaiki efesiensi kerja dengan melakukan otomasi berbagai proses yang
mengelola informatkan asi. Kedua, meningkatkan keefektifan manajemen dengan
memuaska kebutuhan informasi guna pengambilan kputusan. Ketiga, memperbaiki
daya saing atau meningkatkan keunggulan kompetitif organisasi dengan merubah
gaya dan cara berbisnis (ward and peppard, 2002).
Ketiga
sasaran tersebut dapat tercapai secara optimal apabila adanya jaminan
keselarasan antara strategi sisitem informasi dengan strategi bisnis
organisasi, dimana nantinya strategi bisnis akan memberikan arahan terhadap
tercapainya suatu goal organisasi, dan strategi system informasi akan
memberikan dukungan terhadap pencapaian goal organisasi melalui penyiapan
infrastruktur teknologi informasi yang sesuai dengan teknologi bisnis organisasi
untuk menentukan strategi sisitem informasi yang dapat mendukung pencapaian
visi dan misi organisasi, maka perlu pemahaman tentang strategi bisnis
organisasi melalui perencanaan strategi Bisnis dan stategi system informasi
perencanaan iformasi, metodologi Ward-peppar.
Namun
sering ditemukan bahwa penerapan TI kurang berpengaruh terhadap peningkatan
kinerja dan kesuksesan bisnis organisasi maupun peningkatan daya saing
organisasi. Hal tersebut terjadi akibat penerapan SI/TI yang hanya berfokus pada
teknologinya saja. Oleh karena itu, cara efektif untuk mendapatkan manfaat
strategis dari penerapan SI/TI adalah dengan berkonsentrasi pada kaji ulang
bisnis (rethinking business) melalui analisis masalah bisnis saat ini dan
perubahan lingkungannya serta mempertimbangkan TI sebagai bagian solusi (Earl,
1992).
Permasalahan
di dalam penerapan SI/TI pada suatu organisasi dapat dikatakan sebagai paradoks
produktivitas (Roach, 1994). Dimana didalam penerapan SI/TI sudah
diimplementasikan secara baik, namun dari sisi lain seperti halnya keamanan,
sumber daya manusia, transparansi, dan lain-lain bersifat sebaliknya. Sebagai
contoh Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menginvestasikan sedikitnya Rp. 200
milyar untuk pengadaaan .
Perangkat
dan aplikasi SI/TI dengan harapan agar penghitungan suara hasil pemilu dapat
berjalan dengan cepat, akurat dan transparan. Dalam beberapa hal penayangan
hasil perhitungan suara sudah memenuhi kriteria kecepatan yang diinginkan,
namun demikian akurasi dan transparansi masih menjadi persoalan yang berbuntut
pada keraguan terhadap masih diperlukannya SI/TI dalam pemilu-pemilu
berikutnya. Jika ditambahkan dengan persoalan rentannya sistem keamanan yang
melekat pada SI/TI KPU, belum tersedianya komputer dan jaringan komunikasi
secara merata di seluruh Panitia Pemungutan Suara (PPS) di tingkat kecamatan,
serta persoalan manajemen sistem informasi yang dinilai masih tidak standar,
dapat diperkirakan persoalan paradok produktivitas SI/TI di KPU makin menjadi
nyata.
Permasalahan
lain dalam penerapan SI/TI adalah investasi SI/TI masih belum berhasil
memberikan manfaat yang diharapkan kepada organisasi (Ward and Peppard, 2002).
Pimpinan perusahaan sering dihadapkan pada kenyataan bahwa belanja modal
(capital expenditure ) untuk SI/TI tidak membuahkan hasil hingga nilai tertentu
sesuai dengan besarnya investasi yang telah dilakukan. Perusahaan menggunakan
SI/TI untuk pengelolaan akuntansi dan keuangan, operasional pemasaran, layanan
pelanggan, koordinasi antar kantor cabang, perencanaan produksi, pengendalian
persediaan, mengurangi lead time , melancarkan distribusi dan lain sebagainya.
Namun tidak jelas apakah penggunaan SI/TI semacam ini sudah secara nyata
menghasilkan output yang lebih banyak (Robert Solow dalam McCarty, 2001).
1.
STRATEGI SI DAN STRATEGI TI
Bila
kita mengharapkan agar penerapan TI optimal, dibutuhkan suatu strategi SI/TI
yang selaras dengan strategi bisnis organisasi. Hal ini diperlukan agar
investasi yang dikeluarkan untuk TI sesuai dengan kebutuhan dan memberi manfaat
yang diukur dari pencapaian tujuan dan sasaran organisasi.
Earl
membedakan antara strategi SI dan TI (Earl, 1997). Strategi SI menekankan pada
penentuan aplikasi sistem informasi yang dibutuhkan rganisasi. Esensi dari
strategi SI adalah menjawab pertanyaan “apa ?”. Sedangkan strategi TI lebih
menekankan pada pemilihan teknologi, infrastruktur, dan keahlian khusus yang
terkait atau menjawab pertanyaan “bagaimana ?”. Sebagai contoh suatu organisasi
menerapkan Executive Information System pada bidang pemasaran hal ini
mempengaruhi aliran informasi vertikal dalam perusahaan. Pihak manajemen atas
memiliki akses informasi yang lebih besar dan mengurangi ketergantungan sumber
informasi terhadap manajemen menengah. Jaringan telekomunikasi sebagai aplikasi
teknologi informasi memungkinkan informasi mengalir dengan mudah dan cepat di
antara departemen dan divisi yang berbeda.
Untuk
menentukan strategi SI/TI yang dapat mendukung pencapaian visi dan misi
organisasi, maka perlu pemahaman tentang strategi bisnis organisasi. Pemahaman
tersebut mencakup penjelasan terhadap hal-hal berikut : mengapa suatu bisnis
dijalankan, kemana tujuan, dan arah bisnis, kapan tujuan tersebut dicapai,
bagaimana cara mencapai tujuan dan adakah perubahan yang harus dilakukan. Jadi
dalam membangun suatu strategi SI/TI, yang menjadi isu sentral adalah
penyelarasan (alignment) strategi SI/TI dengan strategi bisnis organisasi.
merealisasikan
tujuan bisnisnya. Perencanaan strategis SI/TI mempelajari pengaruh SI/TI
terhadap kinerja bisnis dan kontribusi bagi organisasi dalam memilih
langkah-langkah strategis. Selain itu, perencanaan strategis SI/TI juga
menjelaskan berbagai tools, teknik, dan kerangka kerja bagi manajemen untuk
menyelaraskan strategi SI/TI dengan strategi bisnis, bahkan mencari kesempatan
baru melalui penerapan teknologi yang inovatif (Ward & Peppard, 2002).
Gambar dibawah menunjukkan skema perencanaan strategis SI/TI Ward dan Peppard.
Beberapa
karakteristik dari perencanaan strategis SI/TI antara lain adalah adanya misi
utama : Keunggulan strategis atau kompetitif dan kaitannya dengan strategi
bisnis; adanya arahan dari eksekutif atau manajemen senior dan pengguna; serta
pendekatan utama berupa inovasi pengguna dan kombinasi pengembangan bottom up
dan analisa top down (Pant & Hsu, 1995).
2.
METODOLOGI PERENCANAAN STRATEGIS SI/TI VERSI WARD AND PEPPARD
Faktor
penting dalam proses perencanaan strategis SI/TI adalah penggunaan metodologi.
Metodologi merupakan kumpulan dari metode, teknik, dan tools yang digunakan
untuk mengerjakan sesuatu. Tujuan dari penggunaan metodologi dalam perencanaan
strategis SI/TI adalah untuk meminimalkan resiko kegagalan, memastikan
keterlibatan semua pihak yang berkepentingan serta meminimalkan ketergantungan
individu, dan lebih menekankan kepada proses dan sasaran yang ditentukan.
Pendekatan
metodologi versi Ward and Peppard ini dimulai dari kondisi investasi SI/TI
dimasa lalu yang kurang bermanfaat bagi tujuan bisnis organisasi dan menangkap
peluang bisnis, serta fenomena meningkatkan keunggulan kompetitif suatu
organisasi karena mampu memanfaatkan SI/TI dengan maksimal. Kurang
bermanfaatnya investasi SI/TI bagi organisasi disebabkan karena perencanaan
strategis SI/TI yang lebih fokus ke teknologi, bukan berdasarkan kebutuhan
bisnis.
Metodologi
versi ini terdiri dari tahapan masukan dan tahapan keluaran (Ward &
Peppard, 2002). Tahapan masukan terdiri dari:
1.
Analisis lingkungan bisnis internal, yang mencakup aspek-aspek strategi bisnis
saat ini, sasaran, sumber daya, proses, serta budaya nilai-nilai bisnis organisasi.
2.
Analisis lingkungan bisnis eksternal, yang mencakup aspek-aspek ekonomi,
industri, dan iklim bersaing perusahaan.
3.
Analisis lingkungan SI/TI internal, yang mencakup kondisi SI/TI organisasi dari
perspektif bisnis saat ini, bagaimana kematangannya (maturity), bagaimana
kontribusi terhadap bisnis, keterampilan sumber daya manusia, sumber daya dan
infrastruktur teknologi, termasuk juga bagaimana portofolio dari SI/TI yang ada
saat ini.
4.
Analisis lingkungan SI/TI eksternal, yang mencakup tren teknologi dan peluang
pemanfaatannya, serta penggunaan SI/TI oleh kompetitor, pelanggan dan pemasok.
Sedangkan
tahapan keluaran merupakan bagian yang dilakukan untuk menghasilkan suatu
dokumen perencanaan strategis SI/TI yang isinya terdiri dari:
1.
Strategi SI bisnis, yang mencakup bagaimana setiap unit/fungsi bisnis akan
memanfaatkan SI/TI untuk mencapai sasaran bisnisnya, portofolio aplikasi dan
gambaran arsitektur informasi.
2.
Strategi TI, yang mencakup kebijakan dan strategi bagi pengelolaan teknologi
dan sumber daya manusia SI/TI.
3.
Strategi Manajemen SI/TI, yang mencakup elemen-elemen umum yang diterapkan
melalui organisasi, untuk memastikan konsistensi penerapan kebijakan SI/TI yang
dibutuhkan.
Beberapa
teknik/metode analisis yang digunakan dalam perencanaan strategis SI/TI pada
metodologi ini, mencakup analisis SWOT, analisis Five Forces Competitive,
analisis Value Chain, metode Critical Succes Factors, metode Balanced
Scorecard, dan McFarlan’s Strategic Grid.
3.
METODE DAN TEORI ANALISIS PERENCANAAN STRATEGIS SI/TI
Analisis
SWOT
Analisis
SWOT akan dipetakan dari hasil analisis lingkungan. Kekuatan diidentifikasikan
dengan tujuan untuk mengetahui apa saja kekuatan organisasi untuk dapat
meneruskan dan mempertahankan bisnis. Dengan mengetahui kekuatan yang dimiliki
organisasi akan dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan kekuatan sebagai
modal untuk dapat bersaing. Mengidentifikasi kelemahan bertujuan untuk dapat
mengetahui apa kelemahan-kelemahan yang masih ada, dan dengan mengetahui
kelemahan tersebut, maka perusahaan dapat berusaha untuk memperbaiki agar
menjadi lebih baik. Kelemahan yang tidak atau terlambat teridentifikasi akan
merugikan bagi perusahaan. Oleh karena itu dengan semakin cepat mengetahui
kelemahan, maka perusahaan juga dapat sesegera mungkin mencari solusi untuk
dapat menutupi kelemahan tersebut. Dengan mengetahui peluang, baik peluang saat
ini maupun peluang dimasa yang akan datang, maka perusahaan dapat mempersiapkan
diri untuk dapat mencapai peluang tersebut. Berbagai strategi dapat disiapkan
lebih dini dan terencana dengan lebih baik sehingga peluang yang telah
diidentifikasi dapat direalisasikan. Berbagai jalan untuk dapat mewujudkan
peluang/kesempatan dan mempertahankan kelangsungan bisnis organisasi tentunya
akan mengalami banyak ancaman. Ancaman yang dapat teridentifikasi dapat
dicarikan jalan keluarnya sehingga organisasi dapat meminimalkan ancaman
tersebut.
Critical
Success Factor (CSF)
Analisa
CSF merupakan suatu ketentuan dari organisasi dan lingkungannya yang
berpengaruh pada keberhasilan atau kegagalan. CSF dapat ditentukan jika
objektif organisasi telah diidentifikasi. Tujuan dari CSF adalah
menginterpretasikan objektif secara lebih jelas untuk menentukan aktivitas yang
harus dilakukan dan informasi apa yang dibutuhkan.
Peranan
CSF dalam perencanaan strategis adalah sebagai penghubung antara strategi
bisnis organisasi dengan strategi SI-nya, memfokuskan proses perencanaan
strategis SI pada area yang strategis, memprioritaskan usulan aplikasi SI dan
mengevaluasi strategi SI.
McFarlan
Strategic Grid
McFarlan
strategic grid digunakan untuk memetakan aplikasi SI berdasarkan konstribusinya
terhadap organisasi. Pemetaan dilakukan pada empat kuadran (strategic, high
potential, key operation, and support). Dari hasil pemetaan tersebut didapat
gambaran konstribusi sebuah aplikasi SI terhadap organisasi dan pengembangan
dimasa mendatang (Ward and Griffith 1996 .
Analisa
Value Chain
Analisa
Value Chain dilakukan untuk memetakan seluruh proses kerja yang terjadi dalam
organisasi menjadi dua kategori aktivitas, yaitu aktivitas utama dan aktivitas
pendukung. Mengacu pada dokumen organisasi yang menyebutkan tugas dan fungsi
setiap unit kerja berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap proses kerja
yang terjadi di masing-masing unit kerja, secara diagram value chain dapat
terlihat seperti gambar dibawah ini.
Balanced
Scorecard
Balanced
Scorecard pertama kali dipublikasikan oleh Robert S. Kaplan dan David P. Norton
pada tahun 1992 dalam sebuah artikel yang berjudul ”Balanced Scorecard –
Measures That Drive Performance”. Balanced Scorecard pada awal diperkenalkan
adalah merupakan suatu sistem manajemen penilaian dan pengendalian yang secara
cepat, tepat, dan komprehensif dapat memberikan pemahaman kepada manajer
tentang performance bisnis. Kaplan dan Norton telah memperkenalkan Balanced
Scorecard pada tingkat organisasi enterprise. Prinsip dasar dari Balanced
Scorecard ini adalah titik pandang penilaian sebuah perusahaan hendaknya tidak
hanya dilihat dari segi finansial saja tetapi juga harus ditambahkan
ukuran-ukuran dari perspsektif lainnya seperti tingkat kepuasaan customer,
proses internal dan kemampuan melakukan inovasi.
Menurut
Kaplan dan Norton, Balanced Scorecard didefinisikan sebagai berikut :
”...a
set of measure that’s gives top manager a fast but comprehensive view of the
business, includes financial measures that tell the results of actions already
taken, complements the financial measures with operational measures on customer
satisfaction, internal process and the organization’s innovation and
improvements activities – operational measures that are the drivers of future
financial performance”.
Balanced
Scorecard lebih dari sekedar sistem pengukuran taktis atau operasional.
Perusahaan yang inovatif menggunakan scorecard sebagai sistem manajemen
strategis, untuk mengelola strategi jangka panjang dan menghasilkan proses
manajemen seperti :
1.
Memperjelas dan menerjemahkan visi dan strategi.
2.
Mengkomunikasikan dan mengkaitkan berbagai tujuan dan ukuran strategis.
3.
Merencanakan, menetapkan sasaran, dan menyelaraskan berbagai inisiatif
strategis.
4.
Meningkatkan umpan balik dan pembelajaran strategis.
Perencanaan
Strategis SI/TI digunakan untuk menyelaraskan antara kebutuhan strategi bisnis
dan strategi SI/TI untuk mendapatkan nilai tambah dari suatu organisasi dari
segi keunggulan kompetitif.
Proses
identifikasi kebutuhan informasi Perencanaan Strategis Sistem Informasi dimulai
terlebih dahulu dari lingkungan organisasi yang memuat visi, misi, dan tujuan
organisasi, dilanjutkan kepada identifikasi terhadap lingkungan internal dan
eksternal organisasi, serta identifikasi internal dan eksternal SI/TI
lingkungan organisasi, yang kemudian proses penentuan peluang SI/TI dapat
dilaksanakan ketika kebutuhan informasi yang didrive dari tujuan organisasi
telah semuanya teridentifikasi.
Hasil
dari Perencanaan Strategis SI/TI ini menjawab permasalahan pemanfaatan SI/TI
suatu organisasi, adapun hasil identifikasi dari perencenaan strategis sistem
informasi adalah terbentuknya portofolio aplikasi SI/TI.
Kesimpulan
hasil analisis
Setiap
metode selalu bergantung dari daya dukung sumber daya yang dimiliki organisasi
temasuk organisasi dakwah. Metode terbaik adalah perencanaan yang disusun
dengan berbasiskan sumber daya empiris yang dimiliki dan kemampuan untuk
memanfaatkannya semaksimal mungkin. Kemampuan untuk bersikap realistis terhadap
ketersediaan sumber daya merupakan hal penting dalam implementasi IT di dalam
organisasi. Jika memang menurut kalkulasi organisasi dakwah, sumber daya yang
tersedia tidak dapat mendukung strategi obyektif organisasi, maka pilihannya
adalah melakukan outsourcing atau mengubah strategi tersebut menjadi mengikuti
kemampuan daya dukung sumber daya yang tersedia. Dalam implementasinya
diperusahaan, perlu dilakukan banyak pengkajian bagaimana peran outsourcing
kedepan yang sangat bergantung pada kondisi dan kesiapan organisasi bukan hanya
pada biaya yang dapat dihemat. Organisasi dakwah perlu menyesuaikan dan
melakukan lebih banyak konsolidasi internal sebelum memutuskan untuk
menggunakan jasa outsourcing.
Setiap
organisasi selalu memiliki hubungan dan keterkaitan dengan pihak-pihak di luar
organisasi dakwah lainnya dengan berbagai tujuan serta kebutuhan. Pihak-pihak
eksternal, memiliki kontribusi dalam membesarkan atau mungkin menghancurkan
organisasi/perusahaan. Tata-kelola IT di dalam organisasi/perusahaan memiliki
dampak terhadap pihak-pihak eksternal. Rencana suatu organisasi mencerminkan
harapan mengenai lingkungan, harapan mengenai kemampun organisasi dakwah, dan
keputusan yang telah dibuat tentang persoalan seperti alokasi sumber daya dan
pengarahan upaya. Harapan yang dikuatifikasi merupakan variabel masukan bagi
model yang dipakai dalam perencanaan. Sasaran sistem informasi adalah member
bantuan dalam perumusan, kuantifikasi, klasifikasi, dan penggunaan harapan
tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar